Been So Long…

Oktober 12, 2008

setelah sekian lama tidak membuka blog ini…

rasanya pengen nulis lagi….

sekarang saya sedang tertarik dengan topik komunitas dan dinamikanya, soalnya sedang mencoba menyusun tugas akhir dengan tema ini..

karena kaitannya dengan tugas akhir, tugas akhir saya yang pertama juga kayaknya pengen ditulis lagi deh.. (^_^)’

mungkin nanti kalau sudah jenuh dengan naskah formal, tulisan non-formal semi gak penting ini bisa dipost di blog ini…

 

kangen rajin menulis…

hahaha

Tahu Podjok Magelang

Februari 18, 2008

cobatahu.jpgIni kupat tahu yang mirip sekali dengan tahu campur di Patean Kendal tempat eyang saya.

Tahu panas yang baru keluar dari penggorengan (serius baru diangkat, soalnya saya blm pernah kesana dan tidak perlu mengantri setengah jam untuk sepiring tahu podjok yang legendaris itu), kol yang diiris tipis-tipis, toge atau kecambah, irisan seledri, dan potongan ketupat supaya ada efek kenyangnya, lalu disiram dengan kuah gula merah campur kacang campur kecap.

Enaknyaaaaaaaa….

Sayang saya selalu lupa untuk memotret makanan ini karena terlalu bernafsu untuk langsung menyuap dan menikmati sensasi rasa yang luar biasa.

harganya kalau tidak salah 7ribu rupiah, ada di jalan yang paralel dengan jalan utama di magelang yang satu arah itu, jadi kalau dari jogja ke arah semarang anda pasti lewat, ada di sebelah kiri jalan dengan warung cat hijau.

enjoy!

Indiana Chronicles

Februari 18, 2008

Ada tiga judul dalam seri ini, Blues, Lipstick, dan Bridesmaid. Clara Ng, terimakasih sudah memberi gambaran yang baik sekali tentang hidup perempuan, meskipun hidup saya dan Indiana banyak berbeda tapi saya belajar banyak dari buku-buku ini.

#1 Blues

Indiana adalah tipikal gadis yang banyak dijumpai di kota metropolitan. Masalah hidupnya bisa sampai berlembar-lembar. Kekasih pemaksa, karier mandek, gaji selalu kurang, bos menyebalkan dan penuntut,…

Buku pertama bercerita tentang bagaimana ribetnya pacaran dengan seorang Francis yang pintar, kaya, tampan, dan pemaksa. Pernikahan yang batal sempat membuat saya berpikir, see, pernikahan memang membuat segalanya lebih ribet.. Hidup lajang memang jauh lebih nyaman ketimbang harus berpikir banyak tentang institusi sakral yang dikasi nama pernikahan dan rumah tangga. Dan ternyata, hubungannya dengan Francis setelah putus tetap baik baik saja. Jadi, seberapa penting menikah? Bukankah nyaman punya teman baik dan selalu ada tapi tidak terikat?

#2 Lipstick

Indiana, seperti kebanyakan gadis lain (kecuali mungkin saya), mempunyai love affair dengan lipsticknya. Benarkah kehidupan bisa diramal dari ujung lipstick? Sampai suatu ketika, Indiana mematahkan lipstick dan tiba-tiba seluruh dunia menciptakan masalah untuknya.

Buku kedua ini lebih ringan dari buku pertama, Indiana sudah punya kedudukan mantap di perusahaan media (yang ternyata anak perusahaan media Francis), punya rumah mungil yang lucu, dan teman-teman yang menyenangkan (mungkin Onassis dan Charles masuk juga kesini selain Ilona dan Sara). Ada pelajaran berharga mengenai kebenaran (atau kebohongan?) publik yang tertutup (atau ditutupi dengan sengaja) waktu Indi berbicara tegas mengenai prosedur rumah sakit yang membuat orang sehat dioperasi usus buntu karena kesalahan rumah sakit.

Tuh kan? Melajang memang menyenangkan. (Tapi ternyata, bersama Francis lebih menyenangkan. Tanpa harus menikah.)

#3 Bridesmaid

Indiana, seperti kebanyakan perempuan lajang lainnya yang usianya merangkak pada kepala tiga, merasakan kegelisahan besar-besaran hidup di kota metropolitan. Di tengah absurditas dan kesintingan hidupnya, Indiana mengira hidup akan menjadi lebih mudah apabila seseorang telah menikah. Apakah benar menjadi seorang istri adalah panggilan mulia setiap perempuan?

Buku terakhir yang luar biasa. Tidak mudah ketika harus memilih harus menjadi pendamping pengantin sepupu terdekat dengan teman dekat (Sara atau Karen) dan memilih keduanya berarti bencana. Yah, sedikit mengalami bencana demi orang-orang terdekat ternyata bukan masalah besar (kalau kita mau jujur bilang kondisinya seperti apa). Tema besarnya adalah pernikahan. Budaya Indonesia yang mengharuskan menganjurkan perempuan untuk cepat menikah (dan bermutasi menjadi nyonya ini atau ibunya itu) tetap saja membuat hidup Indiana tidak nyaman. Menikahlah! Menikah baik untuk kesehatanmu!

Ya, bahagia memang melajang, tapi ternyata kepastian untuk bisa bersama Francis sampai tua jauh lebih membahagiakan.

UK pernah bilang, OK kamu tidak mau menikah, but you’ll be awfully lonely when you get older.

Indiana Chronicles ditulis dengan gaya yang ringan, hanya saja pilihan katanya (diksi dan gaya bahasanya) yang terkadang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, terlalu formal. Tapi syukurnya, ini tulisan, jadi mungkin rasanya tetap bisa nyaman. Trend cerita fiksi di Indonesia mungkin memang harus menyajikan gaya hidup yang menurut saya hanya bisa dialami oleh 5 % gadis-gadis di Indonesia untuk bisa laku di pasaran. Apartemen, gaji besar, pacar kaya dengan mobil dan pesawat perusahaan, agak berlebihan menurut saya (meskipun masih kalah berlebihan kalau dibandingkan dengan A Very Yuppy Wedding). Tapi overall, ini seri buku yang perempuan banget. Buku yang membuat pernikahan (bila dilakukan dengan orang yang tepat) bukanlah sesuatu yang perlu diribetkan. Buku yang membuat perempuan percaya bahwa kita bukannya tidak butuh laki-laki, tapi kita bisa survive tanpa laki-laki.

indikecil1.jpg

SHE, by Elvis Costello

Januari 16, 2008

She
May be the face I can’t forget
The trace of pleasure or regret
May be my treasure or the price I have to pay
She
May be the song that summer sings
May be the chill that autumn brings
May be a hundred different things
Within the measure of a day

She
May be the beauty or the beast
May be the famine or the feast
May turn each day into a heaven or a hell
She may be the mirror of my dreams
The smile reflected in a stream
She may not be what she may seem
Inside her shell

She
Who always seems so happy in a crowd
Whose eyes can be so private and so proud
No one’s allowed to see them when they cry
She
May be the love that cannot hope to last
May come to me from shadows of the past
That I’ll remember till the day I die

She
May be the reason I survive
The why and wherefore I’m alive
The one I’ll care for through the rough in ready years
Me
I’ll take her laughter and her tears
And make them all my souvenirs
For where she goes I’ve got to be
The meaning of my life is she

Saya pernah kenal orang yang membuat saya merasa lagu ini tepat sekali, can’t be more precise, menggambarkan apa yang saya rasakan buat dia. Termasuk she, bukan he..

Saya straight, 100%, mencintai pacar saya banget-banget, tapi yang saya rasain ke she itu bukan perasaan yang sama buat mas cecep. She, whose eyes can be so private and so proud, ill take her laughter and tears, and make them my private souvenirs..
Dulu, sulit bilang i love you tanpa ditanggapi aneh oleh orang yang bukan pacar kita, tapi dia mengajari saya bahwa cinta terlalu kuat untuk tetap dipendam, lagipula kita berdua tau seperti apa cinta yang kita bagi, jadi sering banget bilang i love you, so take care, tiap kali kita selesai ngobrol..

She has her own boyfriend, ive got mine.. Ini seperti sahabat dekat yang terkadang lebih mengerti kita daripada kita sendiri, yang rasanya pernah menyusup sebentar ke bawah kulit kita dan menjadi bagian dari jiwa kita. Rasanya seperti punya dua raga, yang emosinya bisa dua kali lipat. Jadi saat dia tertawa bahagia, saya merasa dua kali kebih bahagia daripada dia, tapi celakanya, dia pernah menangis, terisak-isak, atau hanya diam tak bersuara tapi pandangannya kosong, dan saya merasa jauh lebih sakit, sampai terkadang tak kuat melihat dia yang begitu..

tebak apa yang dia bilang ketika saya bilang ‘whatever you feel, i take it double, so take care…’,
dia cuma bilang, ‘then double it twice, thats how i feel for you..’

menyenangkan punya teman yang bisa menjadi penyangga saat kita sedang sedih sedihnya.. yang tidak menangis saat kita menangis, tapi merasakan apa yang kita rasakan dan tetap waras untuk kita… yang tertawa tulus saat kita bahagia, karena dia sangat bahagia dengan kebahagiaan kita… yang menyimpan beberapa rahasia yang terkadang bahkan kita sendiri sudah lupa (saya dan dia sering sekali begitu)… yang menerima kita, seperti apa adanya kita, dan tidak pernah sekalipun bilang ‘bener kan, aku bilang juga apa’ untuk setiap kebodohan yang kita lakukan…

-missumysmartlittlegirl-