Indiana Chronicles

Februari 18, 2008

Ada tiga judul dalam seri ini, Blues, Lipstick, dan Bridesmaid. Clara Ng, terimakasih sudah memberi gambaran yang baik sekali tentang hidup perempuan, meskipun hidup saya dan Indiana banyak berbeda tapi saya belajar banyak dari buku-buku ini.

#1 Blues

Indiana adalah tipikal gadis yang banyak dijumpai di kota metropolitan. Masalah hidupnya bisa sampai berlembar-lembar. Kekasih pemaksa, karier mandek, gaji selalu kurang, bos menyebalkan dan penuntut,…

Buku pertama bercerita tentang bagaimana ribetnya pacaran dengan seorang Francis yang pintar, kaya, tampan, dan pemaksa. Pernikahan yang batal sempat membuat saya berpikir, see, pernikahan memang membuat segalanya lebih ribet.. Hidup lajang memang jauh lebih nyaman ketimbang harus berpikir banyak tentang institusi sakral yang dikasi nama pernikahan dan rumah tangga. Dan ternyata, hubungannya dengan Francis setelah putus tetap baik baik saja. Jadi, seberapa penting menikah? Bukankah nyaman punya teman baik dan selalu ada tapi tidak terikat?

#2 Lipstick

Indiana, seperti kebanyakan gadis lain (kecuali mungkin saya), mempunyai love affair dengan lipsticknya. Benarkah kehidupan bisa diramal dari ujung lipstick? Sampai suatu ketika, Indiana mematahkan lipstick dan tiba-tiba seluruh dunia menciptakan masalah untuknya.

Buku kedua ini lebih ringan dari buku pertama, Indiana sudah punya kedudukan mantap di perusahaan media (yang ternyata anak perusahaan media Francis), punya rumah mungil yang lucu, dan teman-teman yang menyenangkan (mungkin Onassis dan Charles masuk juga kesini selain Ilona dan Sara). Ada pelajaran berharga mengenai kebenaran (atau kebohongan?) publik yang tertutup (atau ditutupi dengan sengaja) waktu Indi berbicara tegas mengenai prosedur rumah sakit yang membuat orang sehat dioperasi usus buntu karena kesalahan rumah sakit.

Tuh kan? Melajang memang menyenangkan. (Tapi ternyata, bersama Francis lebih menyenangkan. Tanpa harus menikah.)

#3 Bridesmaid

Indiana, seperti kebanyakan perempuan lajang lainnya yang usianya merangkak pada kepala tiga, merasakan kegelisahan besar-besaran hidup di kota metropolitan. Di tengah absurditas dan kesintingan hidupnya, Indiana mengira hidup akan menjadi lebih mudah apabila seseorang telah menikah. Apakah benar menjadi seorang istri adalah panggilan mulia setiap perempuan?

Buku terakhir yang luar biasa. Tidak mudah ketika harus memilih harus menjadi pendamping pengantin sepupu terdekat dengan teman dekat (Sara atau Karen) dan memilih keduanya berarti bencana. Yah, sedikit mengalami bencana demi orang-orang terdekat ternyata bukan masalah besar (kalau kita mau jujur bilang kondisinya seperti apa). Tema besarnya adalah pernikahan. Budaya Indonesia yang mengharuskan menganjurkan perempuan untuk cepat menikah (dan bermutasi menjadi nyonya ini atau ibunya itu) tetap saja membuat hidup Indiana tidak nyaman. Menikahlah! Menikah baik untuk kesehatanmu!

Ya, bahagia memang melajang, tapi ternyata kepastian untuk bisa bersama Francis sampai tua jauh lebih membahagiakan.

UK pernah bilang, OK kamu tidak mau menikah, but you’ll be awfully lonely when you get older.

Indiana Chronicles ditulis dengan gaya yang ringan, hanya saja pilihan katanya (diksi dan gaya bahasanya) yang terkadang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, terlalu formal. Tapi syukurnya, ini tulisan, jadi mungkin rasanya tetap bisa nyaman. Trend cerita fiksi di Indonesia mungkin memang harus menyajikan gaya hidup yang menurut saya hanya bisa dialami oleh 5 % gadis-gadis di Indonesia untuk bisa laku di pasaran. Apartemen, gaji besar, pacar kaya dengan mobil dan pesawat perusahaan, agak berlebihan menurut saya (meskipun masih kalah berlebihan kalau dibandingkan dengan A Very Yuppy Wedding). Tapi overall, ini seri buku yang perempuan banget. Buku yang membuat pernikahan (bila dilakukan dengan orang yang tepat) bukanlah sesuatu yang perlu diribetkan. Buku yang membuat perempuan percaya bahwa kita bukannya tidak butuh laki-laki, tapi kita bisa survive tanpa laki-laki.

indikecil1.jpg

Tinggalkan Balasan