Lombang oh Lombang
Januari 13, 2008
Lombang, dibaca Lombeng, dengan dialek madura…
Yap, madura.. Madura yang melihat Surabaya seperti Batam melihat Singapura.. Saya dulu bahkan tidak pernah berpikir akan sampai kesini, tapi alhamdulillah, sampai juga… Menyebrang feri dari Surabaya ke Kamal di ujung barat madura hanya butuh waktu 15 menit. Saya bahkan tidak keluar dari mobil saat di atas feri untuk pulang ke Surabaya. Tapi, satu pantai yang sempat dikunjungi dari Sumenep -di ujung timur Madura, adalah pengalaman luar biasa.
Lombang berjarak kurang lebih satu setengah jam dari Sumenep, yang sepanjang jalan menuju pantai dipenuhi dengan cemara bonsai (mama papa saya hampir saja membeli satu bonsai kalau tidak ingat betapa susahnya membawa tanaman pulang ke Pontianak). Relatif masih perawan bila dibandingkan dengan pantai lain di antara Sampang-Pamekasan yang sudah ramai dengan penjual makanan (mostly bakso) dan kapal-kapal wisata yang menawarkan perjalan sepanjang garis pantai hanya dengan 20ribu rupiah. Pantainya adalah pantai paling bersih dan landai sepanjang mata memandang. Pengunjung masih sangat sedikit walaupun di area komersial sudah ditata untuk kawasan wisata yang ramai. Pasir putih, dengan tingkat kejernihan air yang relatif baik, hampir sama dengan Pulau Temajo yang kita bisa liat ikanikan berenang bebas.
Saya merekomendasikan pantai ini untuk masuk ke daftar kunjungan anda, terutama bila anda sudah sampai Sumenep, yang juga terkenal dengan Kalianget dan Pulau Talango untuk snorkelingnya. Selain dari Surabaya (lewat Kamal-Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Sumenep), bisa juga naik feri langsung ke Kalianget-Sumenep dari Jangkar-Situbondo.
Kalau anda suka mencoba-coba makanan, silahkan coba pecel Madura yang ada di area komersial, pedasssssnya mantap.
Biaya
Bis dari Surabaya 40rb
kalau bawa mobil dan naik feri dari Kamal, 3500 per orang dan 60rb untuk 1 mobil
Saya menginap di Utami Sumekar, 200rb dengan aircon dan single bed king size yang nyaman
-bonusnya adalah sarapan dari bibik-bibik yang ditraktir pemiliknya, semacam pecel atau gudangan dengan tiga jenis taburan, enaaaaakkkkkk, marvellous, dan katanya sudah susah dicari
Masuk ke Lombang per orang 7rb dan makanan disana murah (yah, masuk akal lah), seperti pecel 3rb, kacang 500, kerupuk 500, gorengan 500..
sungai kapuas
Januari 4, 2008
Inilah sungai terpanjang di Indonesia, kalo nggak salah 14ooan km, yang mengalir hanya 100 meter dari rumah saya di Pontianak. Dari kecil, saya sudah diajak menghirup aroma sungai (ada rumah mbok Yas yang tepat di pinggir sungai, yang sampai sekarang jadi tempat yang enak untuk makan mi sagu kalo pas pulang ke pontianak), dan sampai sekarang menyusuri tepiannya sore-sore adalah irresistable temptation.
Kapuas adalah path yang juga landmark buat kota Pontianak. Selain karena ukurannya yang memang mencolok mata, fungsi ekonomi dan sosial yang diperankan dengan baik oleh Kapuas selama berjaman-jaman membentuk karakter kota Pontianak. Kapuas adalah jalur transportasi sibuk karena keberagaman moda dan trayek yang hilir-mudik dan sebrang-menyebrang setiap hari. Kapal, mulai dari sampan sampai kapal penumpang besar (seperti KM Lawit, KM Marisa) berlabuh di tepian sungai untuk loading, belum lagi tongkang yang mengangkut kayu, pasir, batu dan entah apa lagi.
Sungai ini juga merupakan ruang publik bagi masyarakat untuk bersosialisasi dengan ratusan (atau ribuan?) spot mandi cuci dan nongkrong. Hanya dengan menyusuri tepiannya, saya jamin anda akan melihat kebiasaan masyarakat Pontianak untuk mandi 3 kali sehari (pagi, siang, sore, karena memang panas suhu hariannya), berbicara dengan suara keras, mengobrol dan minum kopi (biasanya bapak-bapak, tapi saya juga suka, he :p), dan mendengar ungkapan-ungkapan khas melayu pontianak yang sekarang tambah susah aja ditemui.
Melihat sungai ini juga berarti melihat kilasan segregasi ruang yang dialami Pontianak. Anda akan melihat pecinan, rumah-rumah melayu, dan rumah-rumah baru yang jelas berbeda. Sungai Kapuas juga membagi Pontianak menjadi 3 bagian yang sangat berbeda dari banyak segi. Satu bagian adalah kota, yang pantas memang disebut kota, bagian lain adalah kebun, kebun, kebun, dan sedikit kota, dan bagian terakhir adalah kota lama (ini bagian rumah saya) yang sulit disebut layak menjadi bagian ibukota propinsi. Masih banyak yang perlu diperbaiki, terutama (menurut saya) nilai-nilai sosial dan prilaku.
Bagian kota lama yang terletak di bagian segitiga antara Kapuas kecil dan Landak, merupakan bagian yang sangat penting untuk anda kunjungi jika anda sedang di Pontianak. Ini adalah kota yang berkembang dengan Kapuas sebagai jantungnya, (sebenarnya pengen saya miripkan dengan London sama Thames, tapi kok masih jauh banget bedanya, cuma asalnya aja agak mirip ceritanya) dengan Keraton Kadriyah, Mesjid Jami’ dan Pasar yang tepat berada di tepi Kapuas. Mulai wisata Kapuas anda dari sini, sewa sepit (sampan bermotor) di depan tepi sungai (kalau mau yang bisa dipercaya cari Bang Jumadin, Maduranese, sopan, dan bisa ditawar, mau jual nama saya juga boleh hehe ^_^, bilang aja Isti anaknya pak Iswan) keliling Kapuas, ini rute yang bisa dicoba.
1. Rute pendek, dari pasar, ke jembatan Tol, lalu balik lagi lewat sisi satunya, cermati perbedaan sisi kota ‘baru’ dan ‘lama’.
2. Rute pemukiman, ini masuk ke kampung yang rumahnya diatas air semua, tapi mungkin lebih enak naik sampan kecil tanpa motor, minta tolong cariin sama Bang Jumadin juga bisa, bisa liat bagaimana masyarakat asli Pontianak hidup, dan nilai sendiri yang menurut saya masih perlu dibenahi, hehe
3. Rute panjang, pasar, liat jembatan 1 dan jembatan 2 yang diantaranya bisa liat pabrik kayu (illegal), customize your own route, belok di sungai-sungai kecil, and discover things, bisa berhenti makan di warung-warung di tepi sungai, coba minum kopi dengan pisang goreng (papaku bilang, ini peninggalan kuliner bugis), atau makan mi sagu, atau kwetiau goreng, atau bubur pake kacang dan ikan teri goreng..
Biaya
Kalau anda sudah di kota Pontianak, dari jalan Gajahmada, naik oplet (angkot dalam bahasa melayu) jurusan Tanjung Hilir warnanya putih dengan garis hijau tua, turun di pertigaan Keraton (bayar 2000-3000) lalu jalan ke arah Keraton.
Sewa sampan mulai dari 20ribu dan sepit mulai dari 30ribu (cari Bang Jumadin, kenal baik sama saya, dan jujur), sepakati dulu harga dan rutenya
Jajanan pasar dan makanan tepi sungai berkisar antar 500 sampai 5ribu rupiah